Kamis, 18 Juni 2015

ilmu budaya dasar (2)

Suku Arfak
(Papua)






Disusun oleh:
Zahra Fathan Kusuma
5C414631
1IA02










UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2014/2015




BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia terkenal akan budaya dan keragaman suku. Hal ini di tandai dengan macam-macam ragam budaya yang Indonesia miliki saat ini. Walaupun mempunyai perbedaan di dalam beragam budaya dan adat istiadat yang kita miliki satu sama lain, namun dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika menunjukkan bahwa kita saling menghargai perbedaan yang ada antara satu sama lain. Suku di Indonesia beragam dari sabang sampai marauke, dan setiap suku mempunyai karakteristik yang berbeda pula. Satu suku pasti mempunyai adat atau kebiasaan yang lahir sejak adat itu terbentuk. Hingga saat ini masih banyak suku di daerah-daerah Indonesia yang masih mempertahankan budaya istiadat suku nya, salah satu nya adalah suku arfak.
Propinsi Papua di Indonesia merupakan sebuah propinsi yang unik. Propinsi Papua sering kali di anggap sebelah mata oleh orang-orang karena mereka masin ber-anggapan bahwa masyarakat Papua masih primitive. Namun di balik ber-anggapan bahwa masyarakat Papua masih primitive, disitulah seharusnya kita melihat, bahwa masyarakat Papua merupakan salah satu masyarakat yang masih memegang teguh budaya dan adat isitiadat nya, budaya asli Indonesia yang masih belum tercemar oleh pengaruh dari negara-negara barat.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengenal serta mengetahui lebih dalam dan kita dapat mempelajari dan mengenal tentang kebudayaan, mata pencaharian, adat istiadat dan serta lain nya untuk memberikan penjelasan lebih tentang kebudayaan masyarakat Arfak. Namun selain untuk menjelaskan tentang masrayakat Arfak itu sendiri, tujuan lain yang mungkin di capai adalah untuk  dapat menambah wawasan bagi pembaca sehingga pembaca dapat mengerti lebih jauh tentang kebudayaan masyarakat Arfak di Papua.

BAB II
SEJARAH ASAL USUL
Sejarah
Di pendalaman kota Manokwari ada pegunungan Arfak yang berarti “pegunungan besar”. Penduduknya secara umum di sebut orang Arfak. Namun suku besar Arfak sendiri terdiri dari beberapa sub suku yaitu:

·         Moule
·         Meyah
·         Moskona
·         Mansim-borai
·         Kebar-karon timur(Mpur)
·         Sough
·         Hatam


Manokwari adalah ibukota Provinsi Papua Barat, yang terletak di kepala burung pulau papua. Secara Etimologi Manokwari berasal dari Bahasa Biak Numfor yang berarti kampung tua. Sebab Manokwari di kenal sebagai kota tertua dan tempat di mulai nya penyebaran Injil di tahan Papua oleh Misionaris. Suku Arfak adalah  komunitas asli terbesar di Kabupaten Manokwari. Sesuai dengan nama nya, mereka tinggal di pegunungan Arfak yang merupakan salah satu dataran tinggi di Kabupaten Manokwari.
Sejak Papua dimekarkan menjadi dua propinsi yaitu: Papua dan Papua Barat, maka Manokwari sebagai ibukota Papua barat yang terus berkembang secara pesat. Ketika di gunung sumberdaya semakin terbatas, sebagian besar masyarakat mulai hijrah ke pinggr-pinggir kota manokwari. Pada saat yang sama, dari seberang lautan kapal-kapal terus berdatangan ke kota ini. Dengan adanya UU No. 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, sebenarnya ada dua hal yang perlu di garis bawahi, yaitu Affirmative Action (keberpihakan) dan protection (perlindungan). Dari keduanya, rupanya barulah Affirmative action yang mendapat penekanan dari pemerintah daerah, yaitu melalui pemihakan, pemberdayaan dan kemandirian orang asli Papua dalam berbagai aspek.

A. Asal usul kehidupan suku
Manokwari Ibukota Propinsi Papua Barat adalah bisa di bilang Propinsi yang semakin hari semakin berkembang. Untuk asal usul kehidupan suku, salah satu mampioper dalam patay menjelaskan suku atau marga yang pertama kali dating dan bermukim di suatu tempat dengan seluruh wilayah yang di jelajahi nya akan menjadi milik suku atau marga pemukim pertama di wilayah tersebut. Mereka berhak memiliki atas tanah dan sumber daya alam yang ada di dalam nya. Kelompok suku atau marga lain yang datang di kemudian hari dapat memanfaatkan tanah berdasarkan aturan yang di tetapkan pertama. Adapun pola kepemilikan dan penguasaan sumber daya alam di kelompokkan menjadi 3 bagian yaitu:
1) Warisan
Warisan yang berasal dari keluarga atau kepemilikan keluarga yang di beri secara turun temurun.
2) Invasi ke wilayah marga lain
3) Ekspansi ke wilayah baru
Manokwari memiliki Topografi dataran rendah perbukitan serta pegunungan yang kaya akan potensi alam nya. Masyarakat Arfak terutama mereka yang bermukim di kawasan ini memiliki nilai dan kearifan budaya (Igya Ser Hanjob) yang artinya berdiri menjaga batas. Secara filosofis nilai ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini termasuk manusia yang memiliki batas untuk mengelola nya, bilamana misalnya batas tersebut dilanggar maka bencana akibatnya. Hakikat kosmologi adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bukanlah hal yang tak terbatas. Sebagai sebuah nilai (Igya Ser Hanjob) merupakan landasan hidup masyarakat Arfak sehari-hari. Orang asli Papua selalu mengindari untuk melakukan pelanggaran hak adat atas tanah dan sumber daya alam yang mereka miliki bersama.


Gambar 2.1
Asal usul kehidupan suku arfak


B. Filosofi kehidupan suku arfak
Nilai kehidupan suku Arfak bisa di lihat dari wilayah yang merupakan kebanyakan hutan, berarti hutan merupakan sumber buruan dan termaksud tempat yang cocok untuk bercocok tanam, mengambil kayu, dan lain lain. Hasil hutan tersebut menjadi sumber pemenuhan kebutuhan hidup dan rumah tangga. Secara sosial hutan merupakan sarana pengikat hubungan sosial antar warga dan antar suku di wilayah tersebut. Hutan bisa menjadi sarana instrumen untuk mengukur status sosial atau komunitas dalam satu marga atau suku. Karena sejarah nya pada awalnya masyarakat lebih bergantung pada alam yang secara tradisional mampu menerapkan praktek-praktek pengelolaan hutan melalui kearifan lokal yang mengandung aspek konservasi. Dan secara garis besar masyarakat disana memandang bahwa hutan dan tanah merupakan komponen yang tak dapat terpisahkan. Serta mampu menyatukan antar sesama suku dalam proses pelestarian sumber daya alam tersebut.

BAB III
TRADISI SUKU
Dalam masyarakat Arfak terdapat struktur adat yang terdiri dari Andigpoy (kepala Adat), Pinjoydig (pembantu tugas kepala adat) dan pinjoy piley (pelaksana tugas). Semua komponen institusi adat harus dapat menjalankan segala tugas tugas nya sesuai dengan nilai-nilai yang bersumber dari Igya Ser Hanjob. Nilai-nilai Igya Ser Hanjob juga dapat terlihat dalam pola pengelolaan sumber daya alam nya.  
Seperti suku-suku lain pada umum nya, bahwa bangsa Indonesia tidak hanya punya rumah tradisional namun suku Arfak juga memiliki cirikhas dari segi tarian tradisional nya. Salah satu yang akan kita bahas adalah Tari Magasa. Tari Magasa ini lebih di kenal dengan sebutan tari ular. Tarian ini bisa di namakan tari ular karena pada saat di lakukan nya proses tarian di sertai dengan formasi seperti ular dengan likukan dan gerakan yang sesuai dengan irama lagu yang telah di sajikan.
Buah merah merupakan symbol budaya masyarakat papua dan juga di jadikan sebagai tarian yang di sajikan oleh pemuda-pemuda dari masyarakat suku Arfak. Tarian ini konon dapat memukau banyak orang bagi yang menyaksikan nya karena kemampuan para pemuda dalam membuat koreogradi yang natural dan sangat unik. Selain itu juga sangat kental dengan suasana tradisional di dalam nya dan itu lah yang menjadi tradisi suku masyarakat papua.


Gambar 3.1
Tradisi suku dari Arfak


A. upacara adat dan tatacara kehidupannya.
Tarian ular atau yang di sebut Magasa ini di sajikan hanya pada acara-acara penting, misalnya saat di gelar nya suatu perkawinan, saat panen datang, merayakan ulang tahun atau penyambutan tamu yang akan datang. Tarian ini di pentaskan di hadapan para peonton secara bersama-sama atau bisa berkelompok dalam mementaskan nya. Tarian ini di gerakan saling berhimpitan dan bergandengan tangan, serta menghentakkan kaki ke tanah serta melompat. Hal ini di karena kan tarian magasa berisi romantisme, keindahan, serta kepahlawanan.
Barang-barang perhiasan yang umumna dikenakan oleh pria dan wanita suku Arfak di sebut liya, yakni gelang yang terbuat dari anyaman tali rotan, demi’ya atau yang di sebut kalung, miyepa atau hiasan kepala yang di anyam menggunakan manik-manik dari bulu burung atu kasuari, dan b reya dari anyaman kulit bulu burung atau kasuari untuk hiasan kepala. Lebih dari 50 tahun yang lalu sebelum mengenal pakaian masa kini, orang suku Arfak yang pria memakai cawat yang terbuat dari kayu, dan bagi yang wanita cawat nya berupa ikat pinggang yang lebar nya 30cm, yang dalam bahasa meyah di sebut mogra.
Di dalam waktu senggang, pria duku arfak mengisi waktu nya dengan mengukir atau melukis busur dan panah-panah nya. Ukiran-ukiran yang khas itu juga mereka buat sebagai alat peralatan untuk perang atau untuk melengkapi senjata diri sendiri.


Gambar 3.2
Upacara adat suku Arfak

B. Nilai yang bisa di ambil dari tradisi suku tersebut
Walaupun banyak yang menganggap masyarakat suku Papua masih jauh dari peradaban modern, namun tata karma dan budaya adat nya masih kental dan hingga sekarang masih di berlakukan aturan sistem pelanggaran bagi yang melanggar hak adat tanah dan sumber daya alam. Pandangan dan pemaknaan masyarakat adat Papua akan tanah di Papua umumnya terkategori sebagai pandangan ekofeminisme. Tanah, di asosiasikan sebagai seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, menjaga dan menyimpan manusia ketika meninggal dunia dan sebagai sumber kehidupan abadi. Kehadiran manusia di suatu tempat berkaitan erat dengan karakteristik sumber daya alam.

BAB IV
KESIMPULAN
Tanah Papua merupakan wilayah yang sangat luas dan merupakan salah satu wilayah yang belum banyak orang mendatangi wilayah tersebut, sehingga memungkinkan menjsdi tempat dimana terdapat banyak suku suku asli Indonesia yang mendiami wilayah tersebut dan belum kita ketahui seberapa banyak nya. Suku-suku asli Papua merupakan kekayaan budaya yang harus kita pelihara dan lestarikan keberadaan nya yang merupakan salah satu dari banyak beragam suku di Indonesia ini.
Suku Arfak merupakan salah satu dari suku yang memiliki tata cara unik untuk dapat bertahan hidup. Serta merupakan suku yang masih belum terjamah oleh dunia asing. Kita seharusnya sebagai penduduk Indonesia harus turut serta menjaga kelestarian serta kelangsungan hidup suku-suku tersebut agar tidak punah dan menghilang seiring semakin nya berkembang budaya modern.


DAFTAR PUSTAKA

http://manokwari.bpk.go.id/?page_id=1302 (di akses tanggal  18 april pukul 12.00)
https://id-id.facebook.com/notes/paling-indonesia/menengok-kebudayaan-suku-arfak/221977107844547 (di akses tanggal 26 april pukul 20.00)



ilmu budaya dasar (1)

Rumah adat Mod Aki Aksa
(Papua Barat)



Disusun oleh:
Zahra Fathan Kusuma
5C414631
1IA02




UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2014/2015



BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Indonesia di kenal dengan kaya akan budaya. Indonesia mempunyai 34 propinsi, dan mempunyai banyak adat istiadat yang telah lahir dari zaman dahulu. Dari sabang hingga marauke banyak sekali budaya dan adat istiadat yang kita punya. Kebudayaan rumah adat salah satunya, merupakan karakteristik dari sebuah budaya yang lahir dari zaman dahulu. Indonesia merupakan Negara maritim yang mempunyai banyak budaya yang beragam dan menarik untuk di telusuri. Setiap wilayah punya sejarah dan budaya yang berbeda dari wilayah lain nya. Rumah adat merupakan bangunan rumah yang mempunyai ciri khas bangunan suatu daerah yang di tempati nya.
            Hingga saat ini masih banyak suku di daerah-daerah Indonesia yang masih mempertahankan rumah adat dan budaya daerah nya sebagai bentuk dari memelihara nilai-nilai budaya itu sendiri. Bentuk dan arsitektur rumah-rumah adat di Indonesia masing-masing daerah memiliki bentuk dan arsitektur yang berbeda sesuai dengan budaya dan adat setempat. Rumah adat di Indonesia pada umum nya dihiasi oleh ukiran ukiran unik yang melambangan kebudayaan masyarakat daerah nya. Pada ukiran, jumlah tiang, atau atap nya masih kental akan kepercayaan nenek moyang zaman dahulu.
B. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang budaya rumah adat yang terkandung di dalam rumah adat budaya Propinsi Papua Barat tersebut. Dari segi arsitektur bangunan, bahan bangunan, dan fungsi bangunan tersebut akan saya jelaskan di sini. Dan juga ingin memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia mengenai kebudayaan dari Propinsi Papua Barat.
Tujuan pembangunan rumah adat mod aki aksa selain sebagai tempat berlindung dan bemukim ialah sebagai tempat yang di anggap aman, karena bentuk bangunan rumah nya yang menjulang tinggi dan di design dengan cukup menarik untuk membuat rumah ini mempunyai fungsi nya masing masing.


BAB II
TIPOLOGI BANGUNAN

A. Pengklasifikasian Fungsi Ruangan dalam Rumah Adat Mod Aki Aksa
                Sebelum nya saya akan memberikan penjelasan mengenai rumah adat ini. Rumah adat yang terletak di Propinsi Papua Barat ini adalah rumah panggung yang berbentuk persegi. Biasa nya rumah adat ini tidak di lengkapi jendela, melain kan hanya  memiliki 2 pintu yang berada pada sisi depan dan sisi belakang dari rumah ini pada satu garis lurus. Di maksud kan tidak memiliki jendela demikian agar keluarga yang tinggal di rumah tersebut terhindar dari udara dingin serta bencana alam seperti badai.
Jika rumah berada di daerah yang semakin masuk ke daerah pendalaman, maka akan semakin tinggi konstruksi bangunan yang di buat. Mungkin saja bisa mencapai 4 meter, di karenakan semakin jauh dari lokasi umum, maka akan semakin banyak hewan/binatang buas di lingkungan sana dan biasa nya di gunakan untuk melindungi diri dari musuh yang terjadi karena sering ada pertikaian di wilayah tersebut.
Untuk bagian lantai dan dinding nya, masyarakat membuat nya menggunakan kulit kayu yang di pipihkan dengan cara di pukul pukul kemudian di keringkan dan kemudian di susun dengan rapat dan rapi sehingga dapat menutupi keseluruhan bangunan nya. Sementara untuk bangunan atap nya biasa nya terbuat dari daun pandan. Biarpun bahan tersebut akan menutupi keseluruhan dari dinding rumah, akan tetapi udara segar masih dapat masuk ke dalam rumah melalui celah celah dinding nya,
Berikut klasifikasi ruangan Rumah Adat Mod Aki Aksa:
1. Tiang penyangga
Pada umumnya, tiang tiang penyangga pada rumah adat ini di beri ukiran dan biasanya di lengkapi dengan patung nenek moyang, agar di lindungi dari kekuatan jahat menurut kepercayaan dan adat masyarakat disana.
2. Ukuran Bangunan
Ukuran bangunan rumah adat ini rata-rata berukuran 8x6 meter dengan tinggi atap sekitar 4 sampai 5meter.
3. Meiges
Meiges adalah sebutan untuk kamar tidur khusus pria dalam budaya rumah adat mod aki aksa.
4. Meraja
Meraja adalah sebutan untuk kamar tidur khusus wanita dalam budaya rumah adat mod aki aksa.
5. Ruang tengah
Ruang tengah dalam rumah adat mod aki aksa tidak di alasi batang batang nibung atau bambu, sehingga jika ada pesta adat berupa tarian, dapat mereka lakukan di atas tanah.
6. Kolong rumah (bagian bawah rumah)
Dengan kolong rumah yang luas dari bangunan tersebut, pemilik nya biasa nya memanfaatkan nya untuk menyimpan kayu bakar atau atau digunakan sebagai kandang ternak.

B. Filosofi dan Tradisi Kehidupan Suku
Rumah Mod Aki Aksa atau di sebut rumah  kaki seribu adalah rumah tradisional masyarakat arfak, komunitas terbesar di Manokwari, Papua. Manokwari adalah ibukota Propinsi Papua Barat. Kata Manokwari sendiri berasal dari bahasa biak numfor yang berarti “kampung tua”. Kota ini merupakan kota pemerintahan pertama di tanah Papua. Komunitas asli terbesar di Manokwari adalah masyarakat Arfak. Suku besar Arfak terdiri dari beberapa sub suku yaitu, Suogb, Hatam dan Meyah yang memiliki adat dan budaya yang sama, namun berbeda bahasa. Unik nya adalah walaupun mereka berbeda bahasa tapi masyarakat di sana dapat saling mengerti satu sama lain nya.  Nama asli dari rumah kaki seribu ini adalah rumah adat mod aki aksa atau di sebut Igkojei. Mungkin rumah adat ini berbeda dengan rumah adat panggung lain nya karena rumah adat ini bertumpu di atas tiang-tiang kayu yang jumlah nya bisa di katakan sangat banyak, berbeda dengan rumah panggung lain nya, yang biasa nya tiang tiang utama nya hanya di tempatkan di bagian sudut sebagai penyangga. Itu sebab nya rumah ini dikatakan rumah kaki seribu. Design rumah ini juga tahan gempa, mengingat seluruh konstraksinya menggunakan kayu secara keseluruhan nya. Kampung-kampung orang Arfak terletak di sekitar kawasan cagar alam pegunungan arfak. Secara tradisional orang atau suku dari arfak sendiri tinggal di rumah yang tertutup tanpa jendela dan hanya memiliki 2 pintu di sisi depan dan belakang. Kondisi alam yang dingin menyebabkan mereka harus pandai mendirikan bangunan yang dapat melindungi seluruh anggota keluarga mereka.
C. Hubungan Tipologi Bangunan dengan Filosofi Hidup Suku
Rumah adat tersebut adalah jenis rumah panggung. Bangunan rumah yang saya bahas yaitu arsitektur tradisional suku arfak (Papua Barat) yang terletak di kawasan pegunungan arfak. Di wilayah kawasan cagar alam pegunungan arfak inilah mempunyai lingkungan yang tidak padat, sehingga memperoleh udara segar dan kondisi geografis wilayah pegunungan arfak merupakan bukit bukit terjal dengan ketinggian rata rata 2000 meter dari permukaan laut. Hutan merupakan pemandangan di kanan kiri jalan dan di hampir seluruh wilayah pegunungan. Dengan peninggian bentuk panggung untuk bagian pondasi rumah ini, bertujuan untuk menciptakan rasa aman karena semakin jauh lokasi rumah dari tempat umum, maka akan semakin banyak binatang buas yang bisa saja berkeliaran dengan bebas pada malam hari. Dan bahan yang di gunakan untuk membangun rumah ini di katakan juga sederhana karena konstriksi rumah panggung ini keseluruhan nya hanya terbuat dari bahan kayu dan rumput ilalang sebagai bahan utnuk membuat atap atap.

BAB III
KEARIFAN LOKAL DALAM BANGUNAN
Kearifan lokal dalam rumah adat Mod Aki Aksa ini dapat dilihat dengan ada nya ukiran pada tiang tiang penyangga pada rumah adat  dan di lengkapi dengan patung nenek moyang, agar di lindungi dari kekuatan jahat menurut kepercayaan dan adat masyarakat disana. Serta bangunan pondasi rumah yang unik, yang hanya menggunakan kayu yang jumlah nya bisa di bilang sangat banyak yang membentuk rumah tersebut menjadi seperti rumah panggung. Berbeda dari kebanyakan rumah adat berbentuk panggung, yang biasa nya hanya memiliki tiang penyangga atau kaki di setiap sudut rumah nya saja, namun ini berbeda dengan rumah tinggal adat mod aki aksa yang dimana memiliki banyak kaki di setiap sudut rumah nya. Jarak antara setiap kaki-kaki bangunannya berkisar berjarak 30 centimeter saja. Di setiap sudut ruangan nya terdapat arti tersendiri bagi masyarakat di sana. Ada juga sebutan kamar untuk masing masing pria dan wanita. Dan ada pula bagian tertentu di alam rumah tersebut untuk melaksanakan upacara adat pada saat waktu yang tertentu. Rumah tersebut dikatakan tidak kalah hebat dengan rumah masa kini, karena hanya dengan pondasi kayu, rumah ini bisa tahan terhadap gempa dan badai yang bisa saja datang tiba tiba di wilayah tersebut.

BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan dari rumah adat Mod Aki Aksa ini yang saya dapat simpulkan adalah tinggal daerah yang dengan cuaca ekstrim harus pandai pandai mengkonstruksi bangunan rumah agar tetap aman dan nyaman tinggal di rumah tersebut. Dengan bekal adat istiadat dan budaya disana dapat kita simpulkan bahwa banyak sekali aneka ragam rumah panggung yang berbeda beda arti dan makna dari setiap bangunan nya.
Namun, semenjak di berlakukan nya program pemberdayaan kampung di wilayah papua, dan seiring berkembang nya zaman modernisasi dan para transmigran dari provinsi lain yang banyak berdatangan ke papua barat kini masyarakat mulai meninggalkan rumah mod aki aksa atau yang di sebut rumah kaki seribu tersebut. Saat ini populasinya semakin berkurang dan hanya bisa di temui di kampung-kampung atau lebih tepat nya berada di pendalaman di bagian tengah pegunungan Arfak. Hanya saja masyarakat disana kini lebih menyukai membangun rumah yang modern, yaitu rumah yang terdiri dari semen, seng, batako, dan mempunyai jendela.
Menurut masyarakat disana, biarpun kebudayaan tentang rumah ini semakin di tinggalkan, namun rumah asli papua barat ini sejatinya bukan hanya sekedar bangunan semata, melainkan juga termaksud kebudayaan, karena dapat mencerminkan lingkungan hidup masyarakat, kepercayaan, serta cara hidup komunitas di daerah setempat. Rumah mod aki aksa ini perlu di lestarikan kebudayaan nya dan di konservasi. Di setiap wilayah atau propinsi di Indonesia pasti mempunyai rumah adat atau rumah tradisional yang harus di lestarikan kebudayaan nya, begitu juga dengan rumah mod aki aksa ini. Melestarikan rumah tradisional ini berarti menjaga budaya yang sudah hidup di dalam diri masyarakat setempat sejak dahulu. Dalam upaya pelestarian rumah tradisional ini, diperlukan kerjasama antara berbagai banyak pihak, baik pihak masyarakat dan pihak pemerintahan setempat dalam upaya pelestarian rumah tradisional asal papua barat tersebut, agar tidak di lupakan begitu saja karena perkembangan jaman yang kini  semakin meningkat. Juga di perlukan bagi kaum muda mudi disana untuk tetap selalu menjaga dan melestarikan kebudayaan dari nenek moyang nya. Tradisi ini lah yang memiliki nilai-nilai positif kehidupan yang baik untuk di pelajari oleh generasi masa depan kelak.


Gambar 4.1
Bentuk atap rumah pada mod aki aksa


Gambar 4.2
Tiang penyangga dan bentuk rumah adat Mod aki aksa jika di lihat dari depan

Ini adalah rumah adat papua barat atau yang di sebut Mod Aki Aksa yang berhasil saya abadikan dan saya kunjungi yang berada di ajungan Taman Mini Indonesia Indah. Dilihat dari bentuk nya rumah ini merupakan rumah jenis permanen, layak nya rumah modern yang menggunakan semen dan bata. Aksen ukiran khas suku-suku papua barat tampak di depan pintu masuk. Ada taman kecil menambah asri konsep bangunan rumah adat ini.

DAFTAR PUSTAKA

di akses tanggal 2maret 2015 pukul 19.30
di akses tanggal 12maret2015 pukul 20.45
di akses tanggal 12maret2015 pukul 22.40
di akses tanggal 16maret2015 pukul 20.12
di akses tanggal 20maret2015 pukul  21.19
di akses tanggal 25maret2015 pukul 20.35
di akses tanggal 30maret2015 pukul 23.30




Selasa, 25 November 2014

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL



PENDAHULUAN


Manusia selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebutsebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan dankemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksidengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut jugadengan zoon politicon.


Istilah manusia sebagi zoon politicon pertama kali dikemukakanoleh Aristoteles yang artinyamanusia sebagai binatang politik. Manusiasebagai insan politik atau dalam istilah yang lebihpopuler manusiasebagi zoon politicon, mengandung makna bahwa manusia memilikikemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalamsuatu organisasiyang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas,seperti negara. Sebagai insan politik,manusia memiliki nilai-nilai yangbisa dikembangkan untuk mempertahankan komunitasnya. Argumen yang mendasari pernyataan ini adalah bahwa manusiasebagaimana binatang,hidupnya suka mengelompok.Hanya saja antara manusia dan binatang berbeda memiliki cara mengelompok yang berbeda, hewan mengandalkan naluri,sedangkan manusia berkelompok dilakukanmelalui proses belajar dengan menggunakan akal pikirannya.Sifat berkelompok pada manusia didasari pada kepemilikankemampuan untuk berkomunikasi, mengungkapkan rasa dankemampuan untuk saling bekerjasama. Selain itu juga adanyakepemilikan nilai pada manusia untuk hidup bersama dalam kelompok,antara lain: nilai kesatuan, nilai solidaritas,nilai kebersamaan dan nilaiberorganisasi.
Nilai adalah prinsip-prinsip dasar yang dianggap paling baik,paling bermakna, paling berguna, paling menguntungkan, dan palingdapat mendatangkan kebiasaan bagi manusia. Nilai kesatuan mengandungmakna bahwa komunitas politik merupakan kumpulan orang-orangyang memiliki tekad untuk bersatu dan komunitas politik hanya terwujudapabila adapersatuan. Nilai solidaritas mengandung makna bahwahubungan antar manusia dalam komunitas politik bersifat salingmendukung dan selalu membuka kesempatan untuk bekerja samadengan manusia yang lain. Nilai kebersamaan mengandung artikomunitas politik merupakan wadah bagi mereka untuk mewujudkantujaun hidup yang diidam-idamkan. Nilai organisasi mengandung maknabahwa komunitas politik yang dibangun manusia, mengatur dirinya dalambentuk pengorganisasi yang memungkinkan tiap-tiap menudia mengambil
perannya.
Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalamkehidupan berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya.Berkelompok dalam kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkanbertujuan. Tujuan manusia berkelompok adalah untuk meningkatkankebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Apapun bentuk kelompoknya,
disadari atau tidak, manusia berkelompok mempunyai tujuanmeningkatkan kebahagiaan hidupnya. Melalui kelompok manusia bisamemenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya, bahkan bisa dikatakankebahagiaan dan keberdayaan hidup manusia hanya bisa dipenuhi
dengan cara berkelompok. Tanpa berkelompok tujuan hidup manusia yaitu mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan tidak akan bisa tercapai.
Manusia merupakan makluk individu dan sekaligus sebagaimakluk sosial. Sebagai makluk sosial manusia selalu hidup berkelompokdengan manusia yang lain. Perilaku berkelompok (kolektif) pada dirimanusia, juga dimiliki oleh makluk hidup yang lain, seperti semut, lebah,
burung bangau, rusa, dansebagainya, tetapi terdapat perbedaan yangesensial antara perilaku kolektif pada diri manusia dan perilaku kolektifpada binatang.
Kehidupan berkelompok (perilaku kolektif) binatang bersifatnaluri, artinya sudah pembawaan dari lahir, dengan demikian sifatnyastatis yang terbentuk sebagai bawaan dari lahir. Contoh bentuk rumahlebah, sejak dahulu sampai sekarang tidak ada perubahan, demikianhalnya dengan rumah semut dan hewan lainnya. Sebaliknya perilakukolektif manusia bersifat dinamis, berkembang, dan terjadi melalui prosesbelajar (learning process).


Pembahasan
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya. Individusatu dapat mempengaruhi yang lain dan begitu juga sebaliknya “definisi secara psikologisosial “. Pada kenyataannya interaksi yang terjadi sesungguhnya tidak sesederhanakelihatannya melainkan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Interaksi terjadikarena ditentukan oleh banyak faktor termasuk manusia lain yang ada di sekitar yangmemiliki juga perilaku spesifik.
Jadi sudah kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.
Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Ada beberapa pengertian interaksi sosial menurut para ahli. pendapat dari berbagai para ahli pun bermacam-macam dan variatif seperti dijelaskan dibawah ini.


 menurut para ahli :
1. Menurut H. Booner dalam bukunya Social Psychology memberikan rumusan interaksi sosial bahwa: “Interaksi sosial adalah hubungan antar dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.”
2. Menurut Gillin dan Gillin (1954) yang menyatakan bahwa interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual, antar kelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.
3. Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok.”
4. Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur social.”
5. Siagian (2004) “Interaksi positif hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai, dan saling mendukung.”
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan timbal balik antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok dalam kehidupan sosial.

Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:
1.Dorongan untuk makan
2.Dorongan untuk mempertahankan diri
3.Dorongan untuk melangsungkan jenis
Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
1)penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.

2) penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :

1)Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
2)Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.

3)Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.
Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial, nampak pada kenyataan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain.





Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.
Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organissai harus saling membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan.
Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu.


Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat. Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, “manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan”. Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.
Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.



Kesimpulan

Selain menjadi makhluk individu, manusia juga menjadi makhluk sosial. Makhluk sosial ialah: makhluk yang tidak dapat hidup sendiridi dunia ini dan membutuhkan bantuan orang lain untuk terus hidup. Karena menjadi makhluk sosial manusia memiliki sifat suka bekerjasama dan bersaing . Apabila dalam bekerjasama dan bersaing manusia berlaku terbuka maka akan tercipta  harmoni sosial. Akan tetapi jika masnusia bersaing secara tidak tertutup maka bisa terjadi  konflik antar manusia. Sebagai makhluk sosial manusia merindukan suasana damai tetapi juga tak pernah terhindar dari konflik. Desain manusia sebagai makhluk sosial bukan fikiran manusia, tetapi juga berasal dari Tuhan Sang Pencipta. Kitab Suci penuh dengan pesan-pesan harmoni sosial

Kesimpulan dari makalah ini adalah hakikat manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipungkiri lagi. Manusia membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupan di dunia ini begitu juga manusia membutuhkan Tuhan untuk memperoleh ketenangan jiwa. Tanpa mempercayai Tuhan manusia tidak akan merasakan ketenangan melainkan kegelisahan dalam hidupnya

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Pengertian Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri.Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.
Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggung jawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.


1.        Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:
1. Dorongan untuk makan
2. Dorongan untuk mempertahankan diri
3. Dorongan untuk melangsungkan jenis

Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
1. Penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
2. Penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.

Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
1. Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih sayang orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial.
Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial, nampak pada kenyataan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain.

2.        Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia sebagai warga masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri. Meskipun dia mempunyai kedudukan dan kekayaan, dia selalu membutuhkan manusia lain. Setiap manusia cenderung untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Dapat dikatakan bahwa sejak lahir, dia sudah disebut sebagai makhluk sosial.

Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum, mendirikan kaidah perilaku, serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Dalam perkembangan ini, spesialisasi dan integrasi atau organisasi harus saling membantu. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan.

Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial, justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. Kehidupan sosial, kebersamaan, baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi, negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu.

3.        Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.

Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan, dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan kehidupan bermasyarakat. Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "Manusia hanya dapat menjadi manusia karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.

Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam memenuhi kebutuhan rohani.

Kesimpulan

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karena beberapa alasan, yaitu:
a.  Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.
b.  Perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain.
c.  Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain
d.  Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.


1. Persebaran suku bangsa di Indonesia
Suku bangsa adalah bagian dari suatu bangsa. Suku bangsa mempunyai ciri-ciri mendasar tertentu. Ciri-ciri itu biasanya berkaitan dengan asal-usul dan kebudayaan. Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mengenal suatu suku bangsa, yaitu: ciri fisik, bahasa, adat istiadat, dan kesenian yang sama. Contoh ciri fisik, antara lain warna kulit, rambut, wajah, dan bentuk badan. Ciri-ciri inilah yang membedakan satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Suku bangsa merupakan kumpulan kerabat (keluarga) luas. Mereka percaya bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Mereka juga merasa sebagai satu golongan. Dalam kehidupan sehari-hari mereka mempunyai bahasa dan adat istiadat sendiri yang berasal dari nenek moyang mereka.
Ada teori yang menyatakan penduduk Indonesia berasal dari daratan Cina Selatan, Provinsi Yunan sekarang. Ada juga teori “Nusantara.” Mari kita bahas kedua teori ini. Menurut teori pertama Suku bangsa Yunan datang ke Indonesia secara bergelombang. Ada dua gelombang terpenting.
1. Gelombang pertama terjadi sekitar 3000 tahun yang lalu. Mereka yang pindah dalam pe-riode ini kemudian dikenal sebagai rumpun bangsa Proto Melayu. Proto Melayu disebut juga Melayu Polynesia. Rumpun bangsa Proto Melayu tersebar dari Madagaskar hingga Pasifik Timur. Mereka bermukim di daerah pantai. Termasuk dalam bangsa Melayu Tua adalah suku bangsa Batak di Sumatera, Dayak di Kalimantan, dan Toraja di Sulawesi.
2. Gelombang kedua terjadi sekitar 2000 tahun lalu, disebut Deutero Melayu. Mereka disebut penduduk Melayu Muda. Mereka mendesak Melayu Tua ke pedalaman Nusantara. Termasuk bangsa Melayu Muda adalah suku bangsa Jawa, Minangkabau, Bali, Makassar, Bugis, dan Sunda.
Menurut teori “Nusantara” penduduk Indonesia tidak berasal dari luar. Teori ini didukung banyak ahli, seperti J.Crawfurd, K.Himly, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf. Menurut para ahli ini penduduk Indonesia (bangsa Melayu) sudah memiliki peradaban yang tinggi pada bada ke-19 SM .Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah suku bangsa di Indonesia. Diperkirakan ada 300 sampai 500 suku bangsa yang tinggal di Indonesia. Keragaman suku bangsa di Indonesia antara lain disebabkan oleh:
  • perbedaan ras asal,
  • perbedaan lingkungan geografis,
  • perbedaan latar belakang sejarah,
  • perkembangan daerah,
  • perbedaan agama atau kepercayaan, dan
  • kemampuan adaptasi atau menyesuaikan diri.
Faktor lingkungan geografis yang menyebabkan keanekaragaman suku bangsa antara lain sebagai berikut.
  • Negara kita berbentuk kepulauan. Penduduk yang tinggal di satu pulau terpisah dengan penduduk yang tinggal di pulau lain. Penduduk tiap pulau mengembangkan kebiasaan dan adat sendiri. Dalam waktu yang cukup lama akan berkembang menjadi kebudayaan yang berbeda.
  • Perbedaan bentuk muka bumi, seperti daerah pantai, dataran rendah, dan pegunungan. Penduduk beradaptasi dengan kondisi geografis alamnya. Adaptasi itu dapat terwujud dalam bentuk perubahan tingkah laku maupun perubahan ciri fisik. Penduduk yang tinggal di daerah pegunungan misalnya, akan berkomunikasi dengan suara yang keras supaya dapat didengar tetangganya. Penduduk yang tinggal di daerah pantai atau di daerah perairan akan mengembangkan keahlian menangkap ikan, dan sebagainya. Perubahan keadaan alam dan proses adaptasi inilah yang menyebabkan adanya keanekaragaman suku bangsa di Indonesia. Besar kecilnya suku bangsa yang ada di Indonesia tidak merata. Suku bangsa yang jumlah anggotanya cukup besar, antara lain suku bangsa Jawa, Sunda, Madura, Melayu, Bugis, Makassar, Minangkabau, Bali, dan Batak.
Biasanya suatu suku bangsa tinggal di wilayah tertentu dalam suatu provinsi di negara kita. Namun tidak selalu demikian. Orang Jawa, orang Batak, orang Bugis, dan orang Minang misalnya, banyak yang merantau ke wilayah lain.  
Menghormati keragaman suku bangsa
Bagaimana kita bisa bersikap menghormati keragaman suku bangsa yang ada di tanah air? Kita bisa mengembangkan sikap berikut ini.
  • Menerima suku-suku bangsa lain dalam pergaulan sehari-hari. Dalam pergaulan di masyarakat, kita tidak hanya bertemu orang satu suku bangsa.  
  • Menambah pengetahuan kita tentang suku-suku lain. Mempelajari suku bangsa lain tidak harus datang ke daerah tempat tinggal mereka.  
  • Tidak menjelek-jelekkan, menghina, dan merendahkan suku-suku bangsa lain. Kita, manusia yang diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama.  
Keragaman suku bangsa merupakan kenyataan bangsa kita. Inilah kekayaan bangsa kita. Kalau kita tidak menghormati suku bangsa sendiri, kita tidak akan menjadi bangsa yang kuat. Kita tidak boleh hanya membanggakan suku bangsa kita sendiri dan merendahkan suku bangsa lain. Kalau kita tidak menghormati keanekaragaman suku bangsa, tidak akan tercipta kedamaian dalam hidup bersama. Tidak adanya saling menghormati antarsuku bangsa akan menimbulkan konflik. Contohnya banyak. Antara lain konflik di Poso, konflik di Sambas, dan konflik di Maluku.  
Keanekaragaman Budaya di Indonesia
Istilah budaya berasal dari kata Sansekerta, yaitu buddayah atau buddhi yang berarti akal budi. Kebudayaan berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi manusia. Ada tiga bentuk kebudayaan, yaitu kebudayaan dalam bentuk gagasan, kebiasaan, dan benda-benda budaya.
  • Kebudayaan yang berupa gagasan, antara lain ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan peraturan.
  • Kebudayaan yang berupa kebiasaan, antara lain cara mencari makan (mata pencarian), tata cara pergaulan, tata cara perkawinan, kesenian, dan bermacam-bermacam upacara tradisi.
  • Kebudayaan yang berupa benda adalah semua benda yang diciptakan oleh manusia, seperti alat-alat keperluan sehari-hari, rumah, perhiasan, pusaka (senjata), kendaraan, dan lain-lain.
Manusia menciptakan kebudayaan untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya. Selain itu, kebudayaan juga diciptakan untuk mengolah alam agar bermanfaat untuk kehidupan manusia. Karena kondisi lingkungan alam berbeda-beda, maka terjadilah keanekaragaman kebudayaan.
1. Mengenal keragaman budaya di Indonesia
Lingkungan tempat tinggal mempengaruhi bentuk rumah tiap suku bangsa. Rumah adat di Jawa dan di Bali biasanya dibangun langsung di atas tanah. Sementara rumah-rumah adat di luar Jawa dan Bali dibangun di atas tiang atau disebut rumah panggung. Alasan orang membuat rumah panggungantara lain untuk meghindari banjir dan menghindari binatang buas. Kolong rumah biasanya dimanfaatkan untuk memelihara ternak dan menyimpan barang. Keanekaragaman budaya dapat dilihat dari bermacam-macam bentuk rumah adat. Berikut ini beberapa contoh rumah adat.
  • Rumah Bolon (Sumatera Utara).
  • Rumah Gadang (Minangkabau, Sumatera Barat).
  • Rumah Joglo (Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur).
  • Rumah Lamin (Kalimantan Timur).
  • Rumah Bentang (Kalimantan Tengah).
  • Rumah Tongkonan (Sulawesi Selatan).
  • Rumah Honai (Rumah suku Dani di Papua).. 
Setiap suku bangsa mempunyai upacara adat dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan. Misalnya upacara-upacara kelahiran, penerimaan menjadi anggota suku, perkawinan, kematian, dan lain-lain. Nama dan bentuk upacara menandai peristiwa kehidupan itu berbeda-beda dalam masing-masing suku. Beberapa contoh upacara adat yang dilakukan suku-suku di Indonesia antara lain sebagai berikut.
  • Mitoni, tedhak siti, ruwatan, kenduri, grebegan (Suku Jawa).
  • Seren taun (Sunda).
  • Kasodo (Tengger).
  • Nelubulanin, ngaben (Bali).
  • Rambu solok (Toraja).
Keberagaman kebudayaan di Indonesia juga tampak dalam kesenian daerah. Ada bermacam-macam bentuk kesenian daerah.
Contoh lagu-lagu daerah sebagai berikut.
  • Nangroe Aceh Darussalam Piso Surit
  • Sumatera Utara Lisoi, Sinanggar Tullo, Sing Sing So, Butet
  • Sumatera Barat Kambanglah Bungo, Ayam Den Lapeh, Mak Inang, Kampuang Nan Jauh di Mato
  • Riau Soleram
  • Sumatera Selatan Dek Sangke, Tari Tanggai, Gendis Sriwijaya
  • Jakarta Jali-jali, Kicir-kicir, Surilang
  • Jawa Barat Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Manuk Dadali, Sapu Nyere Pegat Simpai
  • Jawa Tengah Gundul-gundul Pacul, Gambang Suling, Suwe Ora Jamu, Pitik Tukung, Ilir-ilir,
  • Jawa Timur Rek Ayo Rek, Turi-turi Putih
  • Madura Karaban Sape, Tanduk Majeng
  • Kalimantan Barat Cik Cik Periok
  • Kalimantan Tengah Naluya, Kalayar, Tumpi Wayu
  • Kalimantan Selatan Ampar Ampar Pisang, Paris Barantai
  • Sulawesi Utara Si Patokaan, O Ina Ni Keke, Esa Mokan
  • Sulawesi Selatan Anging Mamiri, Ma Rencong, Pakarena
  • Sulawesi Tengah Tondok Kadadingku
  • Bali Dewa Ayu, Meyong-meyong, Macepetcepetan, Janger, Cening Putri Ayu.
  • NTT Desaku, Moree, Pai Mura Rame, Tutu Koda, Heleleu Ala De Teang,
  • Maluku Kole-Kole, Ole Sioh, Sarinande, Waktu Hujan Sore-sore, Ayo Mama, Huhatee
  • Papua Apuse, Yamko Rambe Yamko
Tari-tarian Tradisional Indonesia
  • Nangroe Aceh Darussalam Tari Seudati, Saman, Bukat
  • Sumatera Utara Tari Serampang, Baluse, Manduda
  • Sumatera Barat Tari Piring, Payung, Tabuik
  • Riau Tari Joget Lambak, Tandak
  • Sumatera Selatan Tari Kipas, Tanggai, Tajak
  • Lampung Tari Melinting, Bedana
  • Bengkulu Tari Adum, Bidadari
  • Jambi Tari Rangkung, Sekapur Sirih
  • Jakarta Tari Yapong, Serondeng, Topeng
  • Jawa Barat Tari Jaipong, Merak, Patilaras
  • Jawa Tengah-Yogyakarta Tari Bambangan Cakil, Enggot-enggot, Bedaya, Beksan,
  • Jawa Timur Tari Reog Ponorogo, Remong
  • Bali Tari Legong, Arje, Kecak
  • Nusa Tenggara Barat Tari Batunganga, Sampari
  • Nusa Tenggara Timur Tari Meminang, Perang
  • Kalimantan Barat Tari Tandak Sambas, Zapin Tembung
  • Kalimantan Timur Tari Hudog, Belian
  • Kalimantan Tengah Tari Balean Dadas, Tambun
  • Kalimantan Selatan Tari Baksa Kembang
  • Sulawesi Selatan Tari Kipa, Gaurambuloh
  • Sulawesi Tenggara Tari Balumba, Malulo
  • Sulawesi Tengah Tari Lumense, Parmote
  • Sulawesi Utara Tari Maengket
  • Maluku Tari Nabar Ilaa, Perang
  • Papua Tari Perang, Sanggi
Seni Pertunjukan yang Ada di Indonesia
  • Banten Debus
  • DKI Jakarta Ondel-ondel, Lenong
  • Jawa Barat Wayang Golek, Rudat, Banjet, Tarling, Degung
  • Jawa Tengah Wayang Kulit, Kuda Lumping, Wayang Orang, Ketoprak, Srandul, Opak Alang, Sintren
  • Jawa Timur Ludruk, Reog, Wayang Kulit
  • Bali Wayang Kulit, Janger
  • Riau Makyong
  • Kalimantan Mamanda
Selain hasil kesenian yang sudah disebutkan di atas, suku-suku bangsa di Indonesia juga mempunyai hasil karya seni dalam bentuk benda. Karya seni yang dihasilkan oleh seniman-seniman dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia, antara lain seni lukis, seni pahat, seni ukir, patung, batik, anyaman, dan lain-lain. Benda-benda karya seni yang terkenal, antara lain ukiran Bali dan Jepara, Patung Asmat dan patung-patung Bali, anyaman dari suku-suku Dayak di Kalimantan, dan lain-lain. Hasil kerajinan seni ini menjadi barang-barang cindera mata yang sangat digemari turis mancanegara.
Menghormati budaya di Indonesia
Keanekaragaman budaya merupakan kekayaan bangsa kita. Kebudayaan- kebudayaan daerah merupakan modal utama untuk mengembangkan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah yang ada di wilayah Indonesia. Kebudayaan daerah yang dapat menjadi kebudayaan nasional harus memenuhi syarat-syarat, seperti:
  • menunjukkan ciri atau identitas bangsa
  • berkualitas tinggi sehingga dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia; dan
  •  pantas dan tepat diangkat sebagai budaya nasional.
Kebudayaan nasional harus memiliki unsur-unsur budaya yang mendapat pengakuan dari semua bangsa kita, sehingga menjadi milik bangsa. Kebudayaan nasional dilaksanakan pada saat kegiatan tingkat nasional, seperti perayaan peringatan kemerdekaan 17 Agustus, peringatan hari-hari nasional, dan kegiatan kantor pemerintah atau swasta. Sebagai warga negara Indonesia kita seharusnya bangga dengan adanya keanekaragaman kebudayaan. Bermacam-macam bentuk kebudayaan itu merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Kita harus menghormati keanekaragaman budaya. Kita juga harus melestarikan dan mengembangkan berbagai bentuk warisan budaya yang ada sekarang ini
Bagaimana cara menghormati keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia? Sikap menghormati keanekaragaman budaya dapat kita tunjukkan dengan sikap-sikap berikut ini.
  • Menghormati kelompok lain yang menjalankan kebiasaan dan adat istiadatnya.
  • Tidak menghina hasil kebudayaan suku bangsa lain.
  • Mau menonton seni pertunjukan tradisional.
  • Mau belajar dan mengembangkan berbagai jenis seni tradisional seperti seni tari, seni musik, dan seni pertunjukan.
  • Bangga dengan hasil kebudayaan dalam negeri.


 sumber: 
 http://galangalfarisi22.blogspot.com
 http://virgiolivia.blogspot.com/